Pengalaman Pribadi Ayla Mengukir Kenangan di MEC Surabaya

Pengalaman pribadi Ayla Ramadhani – Halo, aku Ayla Ramadhani, gadis asal Blitar kelahiran 2006, angkatan 20. Perjalananku dari bangku SMA hingga akhirnya meraih beasiswa satu tahun di Mandiri Entrepreneur Center (MEC) Surabaya adalah kisah penuh makna tentang perubahan, perjuangan, dan penemuan jati diri.

Awal Cerita dari Blitar Menuju Perubahan Besar

MEC berada di bawah naungan Lembaga Amil Zakat Yatim Mandiri, yang memberikan kesempatan emas bagi anak yatim berusia 17–21 tahun untuk belajar kemandirian, kewirausahaan, dan memperkuat ketakwaan. Bagi aku, ini bukan sekadar perjalanan pendidikan, tapi proses menemukan diri sendiri sebagai bagian dari generasi muda — Gen Z yang sedang belajar menata mimpi dan meninggalkan kebiasaan lama demi masa depan yang lebih cerah.

Dari Blitar ke Surabaya: Petualangan Baru Dimulai

hasil seleksi tes perguruan tinggi

Sejak kecil, aku punya dua impian besar:

  1. Kuliah di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) jurusan Sastra Jawa.

  2. Atau di Universitas Airlangga (Unair) jurusan D4 Pengobatan Tradisional.

Aku suka menyanyi gending Jawa dan punya ketertarikan pada pengobatan tradisional yang kupelajari secara otodidak. Tapi hidup sering kali berjalan di luar rencana. Ketika aku gagal lolos seleksi perguruan tinggi negeri, rasanya seperti dunia runtuh.

Namun, aku berpegang pada firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 216:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.”

Ayat itu membuatku yakin bahwa setiap kejadian, termasuk kegagalan, pasti punya hikmah. Dan benar saja — kegagalan itu justru membawaku ke MEC Surabaya.

Hari pertama meninggalkan rumah terasa berat. Aku berpamitan dengan ibu, keluarga, dan kucing kesayanganku. Rasanya seperti kehilangan sebagian hati. Tapi di sisi lain, aku tahu ini kesempatan besar untuk memperbaiki diri dan mengubah kebiasaan buruk masa SMA — kebiasaan yang, kalau boleh jujur, sangat “Gen Z” banget.

Meninggalkan Kebiasaan Buruk Gen Z

Masa SMA-ku penuh dengan gaya hidup santai. Main, rebahan, scroll TikTok tanpa henti — rutinitas itu hampir setiap hari, terutama saat pandemi Covid-19. Aku memang belajar untuk UTBK, tapi sering kehilangan fokus dan mudah menyerah.

Ketika hasil ujian keluar dan tak sesuai harapan, aku baru sadar: usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Aku menyesal karena terlalu santai mengejar impian besar. Namun, penyesalan itu menjadi cambuk. Saat diterima di MEC, aku berjanji untuk berubah.

Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menjadi lebih baik — bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk keluarga yang selalu mendukungku. Dari situ, semangat baruku mulai tumbuh: semangat untuk disiplin, tangguh, dan berjuang demi masa depan.

Pertemuan Berharga: Teman dari Berbagai Daerah

pemberangkatan kegiatan outbond ke Mojokerto

Saat pertama kali tiba di MEC, suasananya langsung terasa berbeda. Aku disambut lingkungan penuh keberagaman. Teman-temanku berasal dari berbagai penjuru Indonesia — Palembang, Makassar, Majalengka, Jakarta, dan hampir seluruh daerah di Jawa Timur.

Awalnya, aku bingung harus pakai bahasa apa. Di Blitar aku biasa berbahasa Jawa dengan logat khas daerah. Tapi di MEC, setiap daerah punya ciri logat sendiri: ada yang Madura, Sidoarjo, hingga Surabaya.

Dari situ aku sadar, Indonesia itu benar-benar kaya, bahkan dalam satu provinsi pun banyak perbedaan yang indah. Interaksi dengan mereka membuka pikiranku tentang pentingnya toleransi, menghargai perbedaan, dan belajar dari orang lain.

Masa Orientasi Peserta Didik: Awal Petualangan Seru

Pelantikan OPMEC semester 1

 

Hari-hari pertama di MEC diisi dengan kegiatan Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD). Kami dibagi ke kelompok-kelompok kecil untuk saling mengenal. Kegiatannya seru — mulai dari lomba pementasan seni, kuis berhadiah poin, hingga tugas-tugas kreatif yang menantang.

Tapi ada satu tantangan yang paling berkesan: tugas wirausaha tanpa modal. Kami harus memulai bisnis dari nol, tanpa uang sepeser pun, dan menghasilkan keuntungan.

Aku dan kelompokku memilih untuk jualan donat. Kami mencari supplier yang mau diajak kerja sama, promosi lewat media sosial, dan mencoba berjualan di tempat yang ramai. Hari pertama hasilnya sedikit, tapi kami tidak menyerah. Kami ubah strategi, dan perlahan penjualan meningkat.

Dari pengalaman itu, aku belajar bahwa kemandirian bukan sekadar soal uang, tapi tentang keberanian, kreativitas, dan ketekunan.

Belajar Kedisiplinan dan Ketakwaan

Diniyah

 

Jadwal di MEC sangat padat. Bangun pagi untuk salat Subuh berjamaah, belajar, berwirausaha, dzikir, dan menjalankan salat sunnah seperti Tahajud dan Dhuha. Awalnya, aku kewalahan.

Dulu di rumah, aku sering lalai salat wajib. Tapi di MEC, suasananya berbeda. Teman-teman saling mengingatkan, ustaz dan ustazah memberi motivasi, dan lingkungan asrama benar-benar mendorong untuk taat ibadah.

Perlahan, aku mulai terbiasa salat tepat waktu, berdzikir, bahkan bangun malam untuk Tahajud. Perubahan ini sangat berarti — bukan hanya secara spiritual, tapi juga mental. Aku belajar bahwa ketakwaan bukan cuma ibadah ritual, tapi juga tanggung jawab dan kejujuran dalam hidup.

Ketika diberi target omset Rp5 juta per orang untuk jurusan bisnis digital, aku panik. Tapi dengan bimbingan mentor dan kerja sama tim, aku belajar membuat rencana bisnis, menghitung modal, hingga memasarkan produk. Dari situ aku paham, iman dan kerja keras harus berjalan beriringan.

Tantangan Baru: Umroh dan Mengejar Ketertinggalan 

Salah satu momen paling berkesan dalam pengalaman pribadi Ayla di MEC adalah kesempatan menunaikan umroh di usia muda.Aku bersyukur bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci, berdoa di depan Ka’bah, dan merasakan ketenangan luar biasa dengan keluargaku.

Namun, kebahagiaan itu juga membawa tantangan baru. Saat kembali ke MEC, aku harus menghadapi tumpukan tugas yang tertunda. Bahkan aku sempat tertinggal jauh dari teman-teman dalam pelajaran dan proyek bisnis.

Ada momen di mana aku hampir menyerah — terutama ketika pengumuman peringkat menunjukkan namaku di posisi bawah. Aku kecewa pada diri sendiri, tapi kemudian ingat: setiap ujian pasti punya hikmah.

Aku bangkit. Aku minta bantuan teman, mengatur ulang jadwal, dan berusaha lebih keras. Perlahan tapi pasti, aku mulai mengejar ketertinggalan. Dari sini aku belajar bahwa kegigihan lebih penting daripada kesempurnaan.

Fasilitas Lengkap yang Membuat Bersyukur

Kegiatan Belajar Mengajar berlangsung

Salah satu hal yang paling aku syukuri selama di MEC adalah fasilitasnya. Kami mendapat makan tiga kali sehari, camilan di sela kegiatan, akses komputer dan internet cepat, serta asrama yang nyaman.

Selain itu, ada perhatian besar terhadap kesehatan fisik dan mental. Kami rutin diberi buah, vitamin, dan ada sesi pengecekan kesehatan berkala. Semua ini gratis karena program beasiswa.

Bagi aku, fasilitas ini bukan sekadar kenyamanan, tapi bukti kasih dan dukungan dari banyak orang yang peduli dengan masa depan kami. Dari situ aku belajar untuk selalu bersyukur dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan.

Menemukan Semangat Baru di Dunia Bisnis Digital

Awalnya aku bingung ketika masuk jurusan bisnis digital. Aku yang terbiasa dengan dunia seni Jawa dan pengobatan tradisional, kini harus mempelajari hal-hal seperti digital marketing, SEO, dan desain grafis.

Tapi lama-kelamaan, rasa bingung itu berubah jadi semangat. Aku mulai suka membuat konten media sosial, mendesain poster produk, hingga memasang iklan digital.

Aku masih ingat saat pertama kali berhasil mendapat order jasa restorasi foto lewat WhatsApp. Rasanya luar biasa. Dari situ aku juga mencoba jasa desain grafis . Ternyata, dunia digital itu sangat luas dan seru!

Ternyata  saya bisa mengatakan seru setelah saya merasakan susah ,senang di dalamnya.

Dari pengalaman pribadi Ayla di MEC ini, aku sadar bahwa Tuhan selalu memberi jalan baru ketika satu pintu tertutup. Walau impian kuliahku dulu tidak tercapai, kini aku punya tujuan baru: menjadi digital entrepreneur yang bisa menggabungkan budaya Jawa dengan bisnis modern.

Pelajaran Terbesar dari Pengalaman Pribadi Ayla di MEC

Setelah hampir setahun, aku bisa bilang: MEC telah mengubah hidupku. Aku belajar bahwa waktu adalah aset paling berharga. Dulu aku habiskan berjam-jam scrolling TikTok, sekarang aku tahu bagaimana mengatur waktu, bekerja dalam tim, dan tetap tenang menghadapi tekanan.

Aku juga belajar bahwa kegagalan bukan akhir, tapi awal dari sesuatu yang lebih baik — asal kita mau bangkit.

MEC mengajarkan arti bersyukur: bersyukur atas kesempatan belajar, atas teman-teman luar biasa, atas mentor yang sabar, dan atas setiap pelajaran yang membentukku jadi pribadi yang lebih dewasa dan bertakwa.

Pesan untuk Sesama Gen Z: Mulailah dari Sekarang

Untuk kamu yang sedang membaca kisahku, mungkin kamu juga punya mimpi besar tapi merasa stuck atau belum tahu harus mulai dari mana. Percayalah, setiap langkah kecil yang kamu ambil hari ini bisa membawa kamu lebih dekat ke tujuanmu.

Jangan buang waktu untuk hal yang tidak penting. Kalau aku, seorang anak SMA yang dulu suka rebahan, bisa berubah dan mencapai target omset Rp5 juta, kamu juga bisa.

MEC Surabaya bukan hanya tempat belajar, tapi tempat mengukir kenangan, menemukan jati diri, dan menumbuhkan semangat baru. Dari sini aku belajar bahwa Gen Z punya potensi luar biasa untuk menciptakan masa depan yang lebih baik, asal berani keluar dari zona nyaman.

Jadi, apa mimpimu?
Mulailah langkahmu sekarang — karena setiap perjalanan besar dimulai dari satu keputusan kecil untuk berubah.

Penutup: Momen yang Tak Akan Terlupakan

Satu hal yang tak pernah kulupakan adalah saat kelompok kami tampil dalam muhadharah mingguan — acara rutin yang penuh makna. Di panggung kecil itu, kami tidak hanya berbagi ilmu, tapi juga cerita, tawa, dan semangat.Itulah momen ketika aku sadar bahwa perubahan sejati dimulai dari hati yang mau belajar dan bersyukur. Dan bagi aku, pengalaman pribadi Ayla di MEC Surabaya akan selalu menjadi fondasi kuat untuk melangkah menuju masa depan.

Kegiatan muhadhoroh
Pemenang outbound ,berlika liku perjalanan
Berangkat outbound ke balas klumprik berjalan kaki sejauh 8,3km

Leave a Comment