Pengalaman pribadi Asror ini bisa menjadi inspirasi, motivasi, atau sekedar hiburan ringan bagi siapa saja yang membaca. Perkenalkan, nama saya Muhammad Asror Mulya, biasa dipanggil Asror. Saya lahir di Jakarta pada tanggal 18 November 2005. Sebagai anak kedua dari enam bersaudara, saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan hidup saya, mulai dari kecil hingga titik ini. Mungkin kisah saya tidak sempurna, tapi saya percaya setiap langkah punya makna dan pelajaran berharga. Semoga dengan membagikan pengalaman pribadi Asror, kamu bisa mendapatkan inspirasi atau setidaknya merasa lebih dekat dengan perjalanan hidup saya.
Kenangan Indah di Masa PAUD: Belajar Ngaji dan Bermain Bersama Teman

Masa PAUD adalah periode paling ceria dalam hidup saya. Setiap melihat foto lama, saya langsung tersenyum mengingat kehangatan sederhana yang membentuk kepribadian saya hingga kini.
Salah satu kenangan yang paling membekas adalah saat pertama kali belajar menulis nama sendiri. Meski tulisannya masih berantakan, rasa bangga dan percaya diri mulai tumbuh ketika guru memberi tahu bahwa saya sudah siap menulis lebih banyak.
Tak kalah indah adalah kenangan bersama teman-teman. Setelah ngaji, kami berkumpul berenam untuk bermain layang-layang di sore hari. Tawa kami tak ada habisnya. Pengalaman ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sering datang dari hal-hal kecil yang dilakukan bersama.
Di PAUD, saya juga belajar bekerja sama dan berbagi, pelajaran sederhana yang membentuk kepribadian saya. Bagi saya, masa PAUD adalah masa yang sangat indah, di mana kehidupan terasa sederhana dan penuh kebahagiaan. Momen itu mengingatkan kita untuk menghargai kesederhanaan di tengah hiruk-pikuk dewasa.
Nilai Tambah: Pelajaran Berbagi yang Membentuk Karakter Sejak Dini
Melalui pengalaman pribadi Asror ini, kamu bisa melihat bagaimana interaksi kecil di PAUD membangun fondasi empati. Coba terapkan dalam kehidupan sehari-hari: mulai dari berbagi camilan dengan rekan kerja atau mendengarkan cerita teman tanpa menghakimi. Hasilnya? Hubungan lebih harmonis dan hati lebih lega.
Momen-Momen Masuk SD: Pertemanan Pertama dan Belajar Perjuangan

Salah satu kenangan pertama yang muncul saat masuk SD adalah ketika saya berteman dengan “Fahri Huseini”. Kami bertemu di kelas 1 SD. Seingat saya, dia orangnya mudah berbaur dengan siapa pun. Oleh karena itu, saya senang bisa berteman dengannya. Dia sangat baik, tidak pelit dengan apa pun yang dimilikinya, suka tolong-menolong, dan tidak sombong. Pengalaman pribadi Asror dengan Fahri menjadi awal dari persahabatan sejati yang penuh dukungan.
Kami berdua sering menghabiskan waktu bersama, baik saat bermain istirahat di halaman sekolah maupun mengerjakan tugas bersama-sama, sampai saling contek-mencontek jika ada tugas yang menyulitkan. Dari situ, ikatan kami semakin erat.
Masa-masa SD juga mengajarkan saya tentang perjuangan. Di setiap ulangan, saya merasa ketakutan, terutama saat menghadapi pelajaran yang sulit. Waktu itu, guru saya, Bu Susi, selalu mengingatkan untuk belajar rajin tapi dengan cara yang menyenangkan. Dia tidak pernah memarahi atau memaksa, melainkan selalu memberikan semangat. Di situlah saya merasa bersyukur, walaupun terkadang nilai saya tidak sempurna. Pengalaman pribadi Asror ini menunjukkan bahwa motivasi positif jauh lebih efektif daripada tekanan.
Kegiatan di kelas selalu membuat saya bahagia, seperti lomba-lomba yang sering diadakan di sekolah. Misalnya lomba futsal, lomba kelereng di sendok, dan lain-lain. Meski sederhana, lomba itu membuat saya merasa sangat senang. Selain itu, momen-momen ini memperkaya pengalaman pribadi Asror dengan rasa prestasi dan kebersamaan.
Nilai Tambah: Cara Mengatasi Bencana Ulangan dengan Semangat Positif
Dari pengalaman pribadi Asror, pelajari teknik sederhana: belajar ubah jadi permainan. Buat flashcard lucu atau belajar sambil mendengarkan lagu favorit. Hasilnya? Stres berkurang, penyerapan materi meningkat, dan nilai pun ikut naik tanpa paksaan.
Melawati Masa SMP Bersama Teman-Teman: Ujian dan Dukungan

Melawati masa SMP tidak mudah bukan? Ada ujian tengah semester, PR yang seakan tidak pernah berhenti, sampai kami lulus pun masih ada PR. Drama remaja kadang bikin pusing, kadang bikin tertawa. Namun, satu hal yang saya tahu pasti: kami selalu ada untuk satu sama lain. Pengalaman pribadi Asror di SMP penuh warna berkat sahabat-sahabat yang saling menguatkan.
Ketika saya gelisah tentang ujian matematika yang akan datang, Frisal selalu menenangkan saya dengan berdiskusi hal-hal ringan, seperti hobi yang sama, yaitu futsal. Frisal yang lebih dewasa dari kami selalu membuat saya bahagia dalam keadaan apa pun. Orangnya sangat enak diajak ngobrol. Kalau melihat kawannya sedih, pasti disamperin. Dia selalu berhasil mencerahkan hari-hari kami.
Kami melewati jalan yang sangat lama, namun tetap menikmati langkah demi langkah sambil bercerita hal-hal tak jelas dan tertawa, berbagi kisah lucu, bahkan menggambarkan masa depan seperti merencanakan apa setelah lulus dari SMP, apakah langsung bekerja atau melanjutkan.
Nilai Tambah: Bangun Rutinitas Positif untuk Redam Stres Remaja
Terinspirasi pengalaman pribadi Asror? Ciptakan rutinitas kecil seperti jalan kaki sambil cerita dengan teman. Manfaatnya: pikiran segar, ikatan erat, dan stres hilang seketika. Mulai hari ini untuk masa SMP yang lebih menyenangkan!
Ujian dalam Persahabatan: Konflik dan Penguatan Ikatan
Persahabatan tidak selalu dihiasi tawa dan kebahagiaan. Dalam perjalanan kami sebagai sahabat, tentu ada masa-masa sulit yang harus dihadapi bersama. Salah satu tantangan terbesar adalah ketika terjadi kesalahpahaman akibat perbedaan pendapat saat mengerjakan proyek kelompok. Suasana menjadi tegang dan sempat membuat kami saling diam selama beberapa hari. Pengalaman pribadi Asror ini menjadi bukti bahwa konflik bisa jadi batu loncatan.
Namun, kami belajar bahwa saling mendengarkan dan memahami sudut pandang satu sama lain adalah hal yang paling penting. Setelah berbicara dari hati ke hati, kami menyadari bahwa sebenarnya kami sama-sama ingin melakukan yang terbaik. Dari situ, persahabatan kami justru menjadi lebih kuat karena berhasil melewati konflik tanpa saling menjatuhkan. Akhirnya, ikatan kami semakin kokoh.
Nilai Tambah: Teknik Resolusi Konflik Sederhana untuk Persahabatan Awet
Dari pengalaman pribadi Asror, gunakan “metode hati ke hati”: duduk bersama, dengar tanpa interupsi, lalu cari solusi win-win. Terapkan pada pertemananmu—hasilnya hubungan lebih dalam dan konflik jarang berulang.
Masa-Masa SMK: Roller Coaster Seru Bersama Geng

Masa-masa SMK adalah yang paling enak dalam hidup saya. Kaya roller coaster: kadang naik, kadang turun, tapi selalu seru dan tidak pernah bikin bosan. Di situ, saya bertemu orang-orang paling berharga: kami punya geng sendiri, ber-7: saya, Rio, Tegar, Diki, Riski, Adi, Fauzi. Sudah seperti keluarga kedua. Ketemu tiap hari, tapi tidak pernah bosan. Kalau sehari tidak ngobrol, rasanya ada yang kurang, seperti makan mie instan tapi lupa bumbunya. Pengalaman pribadi Asror di SMK penuh petualangan tak terlupakan.
Pertemanan kami mulai dari hal sederhana. Duduk bareng di kelas 10, ngobrol karena satu kelompok tugas, terus nyambung saja. Lama-lama makin akrab, makin sering bareng, sampai semua orang tahu: kalau ada saya, pasti ada mereka. Kami sudah seperti satu paket hemat lengkap isinya.
Setiap hari seperti petualangan. Kadang pagi-pagi saling kirim pesan untuk mengingatkan tugas, siangnya ngerumpi di kantin sambil makan gorengan, terus pulangnya nongkrong di warung kopi dekat sekolah. Tapi yang paling saya ingat banget adalah saat kami nekat bolos bareng (sekali doang, jangan ditiru ya, adik-adik). Bukan untuk hal negatif, tapi karena kami sama-sama lagi stres dan butuh penyembuhan. Jadi, kami pergi ke Pantai Ancol, duduk-duduk sambil curhat, memandang langit mendung. Sederhana banget, tapi momen itu nempel di kepala saya sampai sekarang. Selain itu, pengalaman pribadi Asror ini diperkaya dengan rasa kebebasan yang bertanggung jawab.
Nilai Tambah: Ciptakan “Healing Moment” Aman untuk Redam Tekanan SMK
Ikuti pengalaman pribadi Asror: merencanakan tamasya sederhana seperti piknik ke taman. Siapkan sesi curhat—manfaatnya mengisi ulang mental, produktivitas meningkat, dan persahabatan semakin solid.
Ketika Dunia Terasa Berat, Mereka Selalu Ada: Dukungan di Titik Rendah
SMK bukan hanya soal belajar dan nilai, tapi juga tentang mental dan tekanan. Saya tidak munafik, ada masanya saya merasa capek banget. Tekanan dari orang tua soal nilai, sampai drama sama teman yang kadang bikin pusing. Tapi di balik itu semua, geng saya selalu menjadi pengungsi paling aman. Pengalaman pribadi Asror membuktikan kekuatan sahabat sejati.
Waktu saya di titik rendah, saya ingat betul saat itu karena orang tua saya meninggal. Saya merasa dunia telah hancur sehancur-hancurnya. Saat itu pun mereka datang, duduk bersama saya. Mereka tak tahu harus ngomong apa lagi, tapi di situ mereka peluk saya dan buat saya tenang. Jika saya sadar, sahabat sejati tidak harus selalu punya solusi. Kadang-kadang, cukup hadir saja, sudah lebih dari cukup. Dari situ, saya bangkit lebih kuat.
Jadi, buat kamu yang masih SMK sekarang, nikmatin tiap detiknya. Ketawa bareng teman, gagal bareng, belajar bareng, nakal bareng (asal jangan berlebihan ya). Karena suatu hari nanti, kamu akan melihat ke belakang dan pasti berkata, “Wah, itu masa paling seru dalam hidup saya.” Pengalaman pribadi Asror ini menjadi pengingat untuk menghargai momen sekarang.
Nilai Tambah: Bangun “Sistem Pendukung” untuk Hadapi Duka
Terinspirasi pengalaman pribadi Asror? Bentuk grup chat khusus curhat. Rutin check-in mingguan—hasilnya kamu tidak pernah sendirian saat badai datang, dan ketahanan mental meningkat drastis.
Perjalanan Saya di Mandiri Entrepreneur Center (MEC) Surabaya: Babak Baru Hidup

Sebelum menginjakkan kaki di MEC Surabaya, saya bahkan belum tahu apa itu MEC. Singkatnya, Mandiri Entrepreneur Center adalah lembaga pendidikan nonformal yang fokus membentuk generasi muda menjadi wirausaha mandiri, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman. Pengalaman pribadi Asror di MEC menjadi titik balik transformasi diri.
Semua berawal ketika saya, bersama teman saya yaitu Teguh—sesama dari Jakarta—ingin masuk MEC karena ingin belajar menghadapi babak baru dalam hidup. Sesampainya di Surabaya, beralamat di Jl. Jambangan No.70, Surabaya, saya disambut langsung oleh wajah-wajah baru dari berbagai daerah: ada yang dari Palembang, Madiun, dan lain-lain. Bahasanya berbeda, logatnya unik, dan awalnya saya sedikit populer. Tapi justru dari situlah saya belajar: keberagaman adalah kekuatan. Di sisi lain, adaptasi ini memperkaya pengalaman pribadi Asror dengan perspektif baru.
Di sini, MEC punya tiga pilar utama. MEC memiliki tiga program inti yang menjadi fondasi pendidikannya:
- Akademik – ilmu teknis sesuai minat dan bakat.
- Entrepreneur – praktik langsung berwirausaha.
- Diniyah & Karakter – penguatan akhlak dan spiritual.
Saya memilih Bisnis Digital sebagai jurusan, salah satu dari empat pilihan yang tersedia (Desain Grafis, Bisnis Digital, Kuliner, Akuntansi/Perkantoran). Awalnya, saya sempat mendaftarkan kantor kantor karena mendengar “ada hitung-hitungannya”. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, saya memutuskan pindah ke Bisnis Digital. Alasannya sederhana: saya ingin belajar menghasilkan uang, bukan hanya menghitungnya. Alhamdulillah, saya diterima! Dari kuota terbatas, saya jadi bagian dari angkatan 20 Mahasiswa Angkatan Bisnis Digital 2025. Pengalaman pribadi Asror ini membuka pintu dunia digital yang luas.
Nilai Tambah: Pilih Jurusan Berdasarkan Passion, Bukan Tren
Dari pengalaman pribadi Asror, evaluasi minatmu: buat daftar “apa yang bikin Excited bangun pagi”. Cocok untuk peluang pasar—hasilnya karir berkelanjutan dan kepuasan jangka panjang.
Belajar di Era AI: Pola Pikir Baru untuk Masa Depan
Di kelas, kami langsung diajak mengenal AI (Artificial Intelligence), khususnya tools seperti Canva AI. Kami belajar membuat prompt, mengolah konten digital, hingga pemasaran online. Semuanya disesuaikan dengan kebutuhan bisnis masa kini. Dosen kami luar biasa: tidak hanya mengajar, tapi juga membangkitkan semangat dengan kalimat andalannya, “Mindset ulang pikiranmu. Kamu bukan korban keadaan, kamu pencipta takdirmu sendiri.” Pengalaman pribadi Asror dengan AI membuka mata tentang potensi teknologi.
Selain itu, setiap minggu kami mengadakan Muhadhoroh—semacam pentas seni bernuansa Islami. Saya yang dulu pemalu dan gelisah, kini berani maju ke depan untuk tampil. Kelompokku menampilkan drama tentang perjuangan seorang ibu. Meski suara dan kaki lemas, saya bangga karena sudah berani mencoba. Dari situ, kepercayaan melonjak.
Nilai Tambah: Latihan Public Speaking Mingguan untuk Bangun Keberanian
Ikuti jejak pengalaman pribadi Asror: mulai dengan cerita 3 menit di depan cermin, lalu kelompok kecil. Manfaatnya: karir melesat, jaringan mudah, dan rasa takut hilang selamanya.
Pengusaha: Sekarang Saya Mengerti Arti Uang Sebenarnya
Program wirausaha di MEC bukan sekedar teori. Kami benar-benar menjual, mengelola modal, dan merasakan untung-rugi. Didalamnya saya belajar betapa beratnya mencari uang. Saya jadi menyesal seenaknya meminta uang pada ibuku, seorang ibu tunggal yang bekerja keras demi keluarga. “Maafkan aku, Bu. Sekarang aku tahu: uang bukan daun yang tumbuh di pohon.” Pengalaman pribadi Asror ini mengubah pola pikir dari konsumtif menjadi produktif.
Sedangkan outbound Mojokerto menjadi ujian kerja sama tim. Setelah libur semester, kami menghadapi tantangan seru: outbound ke Mojokerto dengan nebeng kendaraan dari Surabaya, hanya bermodal uang saku Rp20.000 per orang. Bayangkan: 9 orang, panas terik, berdiri di pinggir jalan, pergantian tangan ke pick-up bahkan angkot. Kami ditolak berkali-kali tapi tak menyerah. Akhirnya, kami sampai dan jadi kelompok ketiga yang tiba di Eco Park Mojokerto. Di sana, kami membangun tenda, memasak lauk, dan saling membantu meski lelah. Udara dingin di tempat wudhu terasa seperti di surga. Dan saat magrib tiba, kami makan bersama: lapar, lelah, tapi di sisi lain berbahagia. Momen ini memperkuat pengalaman pribadi Asror tentang ketangguhan tim.
Nilai Tambah: Praktik Penjualan Mini untuk Pahami Value Uang
Terapkan pengalaman pribadi Asror: jual produk sederhana via online (misal sticker custom). Catat untung-rugi—pelajaran: menghargai jerih payah orang tua dan keterampilan dasar bisnis terasah.
Penutup: MEC, Bukan Sekadar Sekolah – Tempat Transformasi Diri
MEC bukan hanya tempat belajar. Ini adalah tempat di mana saya dibentuk ulang:
- Dari penakut jadi berani.
- Dari konsumtif jadi produktif.
- Dari bingung jadi punya arah.
Saya tidak tahu skenario apa yang Tuhan rencanakan, tapi saya yakin: “MEC adalah jawaban dari doa-doa yang dulu tak kusadari.” Terima kasih, MEC Surabaya.
Angkatan 20 | Bisnis Digital | 24 Oktober 2025
Pengalaman pribadi Asror ini hanyalah sebagian dari perjalanan panjang. Semoga menginspirasi kamu untuk menulis kisahmu sendiri. Bagikan di komentar jika ada momen serupa!