Pengalaman Pribadi Midah – Pelajaran Hidup yang Membawa Perubahan dengan Langkah Kecil

Pengalaman pribadi Midah – Jangan hanya menunggu keberanian datang ambil langkahnya dulu, meski takut.
Dunia tidak menghargai mimpi yang hanya disimpan di kepala, tapi menghormati mereka yang berani salah, bangkit, dan terus melangkah.

Kalimat itu bukan sekadar kutipan motivasi. Bagiku, itu adalah prinsip hidup yang kubentuk lewat pengalaman pribadi, pengalaman yang penuh liku, keraguan, dan akhirnya keberanian.

Pengalaman Pribadi Midah

Pengalaman Pribadi Midah Waktu Kecil

Hai, teman-teman! Namaku Nur Hamdah, tapi biasa dipanggil Midah. Aku anak bungsu dalam bahasa Jawa disebut anak bontot dari lima bersaudara, tumbuh dalam keluarga kecil yang sederhana. Hidupku tidak dimulai dengan kemewahan atau kemudahan. Saat usiaku baru dua tahun, ayahku pergi selamanya.

Aku tentu tidak ingat wajahnya, suaranya, atau pelukannya. Tapi dari cerita keluarga, aku tahu dia orang baik yang sangat mencintai kami. Kepergiannya meninggalkan luka yang tak terlihat, namun justru di sanalah benih kekuatan mulai tumbuh, meski baru kusadari bertahun-tahun kemudian.

Masa kecilku diwarnai sakit. Sejak duduk di RA/TK, aku sering mengeluh sakit lambung. Daya tahan tubuhku lemah, sehingga aku sering absen sekolah. Ibu sudah membawaku berobat ke mana-mana dekat maupun jauh tapi belum juga sembuh.

Sampai kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah, aku belum pernah ikut lomba atau kegiatan ekstrakurikuler. Satu-satunya pengalaman itu saat di RA, aku pernah ikut drumband dan alhamdulillah juara 1.

Namun, karena mudah lelah dan sakit, aku jarang berani ikut kegiatan. Baru saat kelas 6, aku mencoba terapi dan alhamdulillah, sembuh.

Tumbuh dalam kondisi seperti itu membuatku menjadi anak yang pemalu, takut salah, dan selalu merasa “kurang”. Bahkan untuk maju ke depan kelas saja, aku gemetar. Aku merasa mental dan karakterku rapuh seperti kaca yang mudah retak. Tapi siapa sangka, dari kerapuhan itulah aku belajar arti ketangguhan.

Titik Balik Itu Mengubah Segalanya – Pengalaman Pribadi Midah

Langkah Awal Perubahan Dimulai dari Pengalaman Pribadi

Aku melanjutkan sekolah di MTs Darul Mu’awanah, satu yayasan yang sama sejak RA. Yayasan ini menyediakan pendidikan dari RA hingga MA, bahkan memiliki pondok pesantren bernama PPTQ I’anatut Tholibin. Mungkin namanya asing di telinga, tapi tempat inilah yang perlahan membentuk siapa aku sekarang.

Perubahan mulai terasa saat kelas 7 MTs. Teman sekelasku memaksaku ikut pramuka. Awalnya aku menolak takut tidak kuat, takut salah, takut diejek. Tapi mereka terus membujuk, bahkan menjanjikan akan menemaniku. Di situlah sesuatu berubah.

Aku belajar membuat simpul tali, mengatur tenda, bahkan tampil di depan saat upacara. Perlahan, rasa percaya diriku tumbuh. Aku mulai berani bicara, berani salah, dan berani mencoba meski masih dengan tangan gemetar.

Kelas 8 menjadi babak baru. Aku diajak guru dan kakak kelas untuk mondok di pesantren yang sama. Setelah minta izin ke ibu dan diizinkan, aku mulai belajar banyak hal: ilmu agama, kemandirian, dan yang paling penting pantang menyerah.

Berani Mengambil Keputusan dan Menerima Risiko

Pengalaman Pribadi Midah Siap Untuk Menerima Resiko

Setelah lulus MTs, aku melanjutkan ke MA di tempat yang sama, bukan karena ingin, tapi karena aku mendapat beasiswa penuh. Ini adalah caraku meringankan beban ibu yang bekerja keras sendirian sejak ayah tiada.

Namun, saat kelas 12, aku dihadapkan pada keputusan besar yang membuatku bingung luar biasa. Aku punya prinsip: setelah lulus, aku tidak mau lagi minta uang ke ibu. Kalau belum bisa memberi, setidaknya jangan jadi beban.

Tapi bagaimana caranya? Padahal, aku sangat ingin melanjutkan pendidikan dan membangun karier. Namun, melihat kondisi ekonomi keluarga, aku tahu itu belum mungkin lewat jalur formal.

Maka, dengan berat hati, aku memilih gap year. Aku keluar dari pondok sebelum dilaksanakannya acara kelulusan dan mulai mencari pekerjaan. Banyak yang heran. Bahkan ada yang berkata, “Kamu lulusan pondok kok jadi buruh pabrik?”

Awalnya, kata-kata itu menusuk hati. Tapi lama-lama aku sadar harga diri bukan dari pekerjaan, tapi dari niat dan usaha. Aku yakin Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya berjuang sendirian. Rencana-Nya selalu lebih indah dari bayangan kita.

Akhirnya, aku diterima di pabrik alat medis sebagai karyawan produksi, pekerjaan yang sama sekali tidak pernah kubayangkan. Tapi aku ingat selama ini jalan Allah dan dengan restu ibu, aku harus berani melangkah, sekecil apa pun langkah itu.

Kelulusan Madrasah Aliyah Menjadi Langkah Awal dari pengalaman Pribadi Midah di Dunia Kerja

Lika-Liku Menjadi Karyawan – Belajar Bertahan di Tengah Tekanan

Lika – Liku Pengalaman Pribadi Waktu Kerja

Sebelum wisuda, aku sudah mulai bekerja. Tapi dunia kerja ternyata jauh berbeda dari bayanganku. Di pesantren, sholat lima waktu selalu tepat waktu. Di pabrik? Waktunya sempit, tekanannya tinggi. Banyak rekan kerja yang mengabaikan sholat karena “sibuk”.

Aku sempat goyah. Tapi lalu kuingat rezeki itu datang dari Allah. Kalau aku mengabaikan-Nya, lalu untuk siapa aku bekerja?

Di sana, aku juga melihat sisi lain kehidupan. Ada teman yang kerja hanya untuk makan sehari-hari. Ada yang sudah tidak punya keluarga lagi. Yang paling menyentuh ada ibu-ibu hamil besar tetap bekerja. Mereka tidak punya pilihan mereka berdamai dengan keadaan, meski itu bukan yang mereka impikan.

Pengalaman itu mengajarkanku bahwa hidup itu tidak selalu tentang impian, tapi juga tentang bertahan. Dan dalam bertahan, kita tetap bisa menjaga nilai dan harapan.

Suatu hari, manajer mengumpulkan semua karyawan. Ia mengumumkan bahwa 80% dari kami diliburkan sementara karena masalah produksi. Aku langsung panik. Saat itu sudah mendekati Ramadhan. Kalau tidak kerja, dari mana uangku? Aku tidak mungkin minta ke ibu lagi.

Aku langsung mengirim lamaran ke mana-mana. Seminggu, dua minggu… belum ada kabar. Rasanya putus asa. Tapi aku terus berdoa dan berusaha. Akhirnya, setelah sebulan, aku dapat panggilan interview di pabrik roti. Alhamdulillah, aku diterima sebagai admin.

Pekerjaannya tidak mudah—menghitung stok, melayani supplier, kadang lembur tapi aku jalani dengan syukur. Di tengah kesibukan itu, aku diam-diam mendaftar program pelatihan keterampilan.

Suatu hari saat istirahat, aku buka HP dan melihat notifikasi: ada pengumuman kelulusan dan alhamdulillah, aku diterima! Waktu itu aku langsung merencanakan resign.

Prosesnya tidak mudah, HRD butuh waktu, surat harus lengkap, dan aku harus menunggu ACC. Tapi aku tidak menyerah. Akhirnya, surat resignku disetujui tepat sehari sebelum keberangkatanku ke Surabaya.

Alhamdulillah Diberi Kesempatan Belajar di LKP Mandiri Entrepreneur Center

Pengalaman Pribadi Midah yang Mendapatkan Kesempatan Untuk Belajar

Setelah semua lika-liku itu, aku akhirnya diberi kesempatan belajar di LKP Mandiri Entrepreneur Center (MEC) program beasiswa satu tahun yang juga menyediakan asrama.

Awalnya, ibu dan keluarga berat mengizinkanku pergi. Mungkin mereka khawatir soal biaya atau masa depanku. Aku mencoba menjelaskan dengan pelan-pelan: “Bu, aku tidak akan minta uang sepeser pun. Semua sudah ditanggung.”

Setelah diskusi panjang, mereka akhirnya merestui. Restu ibu adalah doa terkuat yang kumiliki.

Bagi yang belum tahu, MEC adalah program pemberdayaan dari LAZNAS Yatim Mandiri yang berdiri sejak 2007 di Surabaya. Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) yang fokus pada pembentukan wirausaha muda.

Tujuannya sederhana tapi mulia yaitu, memandirikan generasi muda lewat pelatihan keterampilan, bisnis digital, dan pembentukan karakter dengan berlandaskan agama.

Pengalaman Pribadi Midah di LKP Mandiri Entrepreneur Center

Pengalaman Pribadi Belajar di LKP MEC Surabaya

Di MEC, aku memilih jurusan Bisnis Digital. Kenapa? Karena aku percaya, di era digital ini, siapa pun bisa menciptakan peluang.

Aku bermimpi suatu hari nanti bisa kerja dari rumah, mengatur waktu sendiri, dan punya lebih banyak waktu bersama ibu yang sangat kusayangi. Aku ingin ia bangga bukan karena aku kaya, tapi karena aku pantang menyerah.

Kehidupan di MEC penuh tantangan, tapi juga penuh berkah. Kami bangun pagi untuk sholat tahajud, sholat subuh berjamaah, lalu belajar bisnis, marketing digital, bahkan public speaking.

Pengajarnya bukan hanya instruktur, tapi praktisi yang sudah sukses di bidangnya. Teman-temanku? Luar biasa. Ada yang dari Palembang, Makassar, Bogor semua punya cerita perjuangan sendiri.

Yang paling kusyukuri MEC tidak hanya mengajarkan keterampilan bisnis, tapi juga tentang ibadah dan akhlak. Kami diajarkan bahwa sukses bukan hanya soal uang, tapi juga soal manfaat untuk orang lain.

Dan yang paling penting kedisiplinan waktu. Waktu sholat, waktu belajar, waktu istirahat—semua diatur. Pelajaran ini sangat berharga, karena di dunia kerja nanti, yang mengatur waktu adalah diri sendiri.

Bertemu dengan Saudara Tak Sedarah

Pengalaman Pribadi Midah Bertemu Saudara di LKP MEC Surabaya

Saat pertama kali menginjakkan kaki di MEC dan bertemu teman-teman baru, awalnya aku sempat takut. Tapi aku tidak menyangka akan merasakan sesuatu yang begitu hangat meski kami semua berasal dari kota, latar belakang, dan pengalaman hidup yang berbeda.

Aku belum pernah bertemu mereka sebelumnya, bahkan nama mereka pun masih asing di telingaku. Tapi dalam hitungan hari, rasa canggung itu perlahan hilang, digantikan oleh tawa bersama, saling tanya kabar, dan dukungan yang tulus.

Yang paling menyentuh hatiku adalah cara mereka saling menjaga satu sama lain. Mereka tidak hanya teman sekamar atau teman kelas mereka seperti saudara, bukan karena ikatan darah, tapi karena keinginan tulus untuk saling menopang. Dan di sanalah aku menyadari Allah mempertemukanku dengan mereka bukan tanpa alasan.

Pengalaman MOPD di MEC

Pengalaman Pribadi Pada Saat MOPD di LKP MEC Surabaya

Saat pertama kali masuk MEC, aku mengikuti kegiatan MOPD (Masa Orientasi Peserta Didik). Jujur, pengalaman itu benar-benar membuatku takjub. Para pengajar dan tim manajemen tidak hanya menyambut kami dengan hangat, tapi juga langsung menanamkan semangat dan motivasi sejak hari pertama.

Mereka tidak sekadar memberi materi, tapi juga berbagi kisah, nilai, dan harapan besar terhadap kami sebagai calon wirausaha muda. Aku bisa merasakan betapa seriusnya mereka ingin kami sukses bukan hanya dalam bisnis, tapi juga dalam akhlak dan kemandirian.

Dari MOPD itulah aku mulai paham belajar di MEC bukan seperti sekolah biasa. Ini adalah komitmen. Dan semangat yang mereka tanamkan di awal itu terus membekas menjadi pengingat saat aku lelah atau ragu. Ini adalah fondasi pertama langkahku di sini.

Pengalaman Outbond di Klurak Ecopark Pacet – Ujian Kekompakan dan Strategi

Pengalaman Pribadi Midah Outbond di Klurak Eco Park Mojokerto

Outbond di Klurak Ecopark Pacet buatku bukan cuma main-main atau jalan-jalan biasa. Tantangannya malah sudah mulai sejak kami berangkat dari MEC!

Kami dikasih uang saku yang jumlahnya… yah, cukup bikin mikir keras. Nggak cukup buat naik ojek langsung ke Pacet, apalagi naik taksi. Jadi, kami harus putar otak gimana caranya sampai ke tempat outbond dengan uang segitu, tapi tetap selamat dan tetap bersama kelompok.

Bagiku, ini pengalaman yang seru sekaligus mendidik. Di sini, kita belajar tentang kekompakan, kerja sama tim, dan empati. Yang paling utama bagaimana kita menjaga satu sama lain dan tidak egois, karena perjalanan ini nggak bisa dijalani sendirian.

Penutup dari Saya Langkah Kecil yang Mengubah Segalanya

Sekian Cerita Pengalaman Pribadi ku

Perjalananku mungkin tidak spektakuler. Tidak ada gelar mentereng, tidak ada kekayaan mendadak. Tapi aku belajar satu hal yang sangat berharga perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang berani.

Dulu, aku takut bicara di depan kelas. Sekarang, aku berani bercerita di website ini sebagai contoh pengalaman pribadi Midah yang jujur dan penuh makna.

Dulu, aku ragu pada keputusanku sendiri. Sekarang, aku percaya bahwa setiap pilihan membawaku lebih dekat pada takdir terbaikku termasuk keputusan untuk mengambil kesempatan belajar di LKP Mandiri Entrepreneur Center.

Kalau kamu sedang bingung, takut, atau merasa “belum cukup” percayalah, kamu tidak sendiri. Mulailah dari yang kecil. Ambil satu langkah. Lalu satu lagi.

Dan jangan lupa selama itu jalan Allah, dan dengan restu orang tua, insyaallah langkahmu tidak akan sia-sia.

Terima kasih sudah membaca contoh pengalaman pribadi Midah ini. Semoga kisah ini bisa jadi teman kecilmu di tengah perjalananmu sendiri menuju karier yang bermakna.

Leave a Comment

Exit mobile version