Halo sahabatku! 🌸 Kali ini saya ingin berbagi sedikit tentang Pengalaman Pribadi Trista di masa lalu—tentang perjalanan sebelum dan sesudah saya berada di MEC Surabaya. Tapi sebelum itu, aku mau membagikan sedikit kata-kata motivasi yang selalu aku pegang dalam hidupku:
Dari Luka, Lahir Inspirasi
“Masa lalu memang tidak bisa diubah, tapi justru dari sanalah aku belajar, tumbuh, dan akhirnya jadi versi diriku yang sekarang. Setiap jatuh, salah langkah, bahkan luka—semuanya punya peran. Dan hari ini, aku memilih untuk tidak malu sama cerita itu, karena itu bagian dari perjalananku yang tidak ternilai.”
Kalimat itu bukan sekedar kata motivasi, tapi mengingatkan bahwa setiap kejadian mempunyai makna tersendiri. Dari situ aku belajar menerima, memaafkan diri sendiri, dan terus melangkah.
Sedikit Biodata Tentang Aku
Sebelum lanjut ke cerita utama, kenalan dulu yuk! Ada pepatah bilang “tak kenal maka tak sayang,” kan? 😄 Namaku Trista Shofa Aqilah, lahir pada 3 Februari 2007. Aku anak ketiga dari empat bersaudara dan tinggal di Kediri, Jawa Timur. Hobiku travelling dan membaca—tapi lebih sering baca novel, bukan buku pelajaran (hehe, bercanda yaa 😆).
Aku orangnya ceria, suka bercanda, dan katanya suaraku “kayak toa masjid” karena keras banget. Awalnya sih sakit hati dengarnya, tapi lama-lama aku belajar buat nerima. Emang begitulah aku—kadang bad mood jadi pendiam, kadang nangis karena hal kecil, tapi juga gampang ketawa.
Aku juga tipe orang yang sering menutupi luka dengan tawa. Tapi dari situ aku sadar, bahwa setiap senyum punya cerita. Nah, sekarang aku siap berbagi ceritaku yang penuh warna. Yuk, lanjut baca sampai akhir ya sahabatku! 🌻
Masa-Masa di Pondok dan Madrasah Aliyah
MA Plus Hikmatul Mubtadi-ien
Sebelum ke MEC, perjalananku dimulai dari keputusan keluarga untuk aku mondok di PPSM Banin Banat Al-Mubtadi-ien di Badal, Kediri. Di sinilah aku belajar banyak hal tentang kehidupan.
Selama enam tahun di pondok, aku juga sekolah di MA Plus Madinatul Mubtadi-ien, yang lokasinya masih satu area dengan pondok. Suasananya sederhana, tapi penuh kenangan. Sekolahnya berada di dekat sawah dan kebun milik warga sekitar. Nah, karena dekat kebun, setiap kegiatan olahraga sering kali berujung dengan “oleh-oleh”—buah mangga, rambutan, atau singkong hasil petik sendiri. Kadang bahkan dibawain beras, mie, atau minyak dari warga.
Lucu ya, tapi justru dari situ aku belajar makna kebersamaan dan kesederhanaan. Hidup di pondok mengajarkan aku banyak hal—mulai dari disiplin, tanggung jawab, hingga arti bersyukur.
Pengalaman Pribadi Trista di MEC Surabaya
Apa Itu MEC (Mandiri Entrepreneur Center)?
Banyak yang belum tahu, MEC itu apa sih? Nah, MEC (Mandiri Entrepreneur Center) adalah lembaga pendidikan yang mengajarkan kita cara menjadi pengusaha muda dengan jiwa wirausaha, karakter Islami, dan profesionalitas tinggi.
Awalnya, jujur aja aku nggak punya niat sama sekali buat ke MEC. Aku sempat bimbang karena punya dua pilihan besar:
Melanjutkan kuliah yang sudah aku terima, atau
Coba daftar ke MEC (yang waktu itu belum tentu diterima juga).
Setelah merenung panjang, akhirnya aku memilih untuk lanjut ke MEC. Dan keputusan itu jadi salah satu langkah terbaik dalam hidupku.
Masuk ke MEC nggak mudah. Harus melewati tes tulis dan wawancara dulu. MEC juga dikhususkan untuk anak yatim dan yatim piatu, dan menurutku itu istimewa banget. Karena dari sanalah aku belajar bahwa kasih sayang, semangat, dan kesuksesan nggak cuma datang dari orang tua, tapi juga dari diri sendiri dan lingkungan yang baik.
Pengalaman Pribadi Trista Hari Pertama di MEC Surabaya
Tanggal 30 Juni 2025, aku bersama keluarga dan kembaranku berangkat menuju kampus MEC Surabaya di Jl. Jambangan No.70, Surabaya.
Begitu sampai, aku langsung ke ruang registrasi, lalu lanjut ke proses check-in. Di situ, semua barang bawaan dicek satu per satu. Rasanya campur aduk antara gugup, senang, dan penasaran. Hari itu jadi awal babak baru dalam hidupku—babak yang mengajarkan arti kemandirian sesungguhnya.
Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) di MEC Surabaya
Tanggal 1 Juli 2025, aku resmi mengikuti MOPD (Masa Orientasi Peserta Didik) selama satu minggu penuh. Dari pagi sampai malam, kegiatannya padat, tapi seru banget!
Di MOPD aku belajar banyak hal—nggak cuma teori, tapi juga pelajaran hidup dan nilai-nilai wirausaha. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku diajarkan cara berjualan tanpa modal dan bagaimana menghasilkan uang dari kreativitas sendiri.
Yang paling berkesan, kami diminta menulis surat untuk orang tua. Aku menulis dengan air mata, menceritakan semua kesalahan dan harapanku untuk menjadi anak yang lebih baik. Dari kegiatan itu, aku belajar bahwa rindu bisa jadi motivasi paling kuat untuk tumbuh.
Setelah MOPD selesai, aku merasa lebih yakin menatap masa depan. Aku punya visi dan misi hidup baru, dan MEC menjadi tempat di mana aku menemukan versi terbaik dari diriku.
Hidup di Satu Atap yang Sama Pengalaman Pribadi Trista
Hidup di asrama MEC membuatku sadar bahwa keluarga nggak selalu harus sedarah. Kami hidup bersama di satu atap, awalnya saling asing, tapi lama-lama jadi akrab seperti keluarga sendiri.
Setiap hari kami makan bareng, belajar bareng, tertawa bareng, bahkan nangis bareng. Dari situ aku belajar tentang arti persaudaraan, empati, dan kehangatan yang nggak bisa dibeli dengan uang.
Pengalaman Pribadi Trista Jadi Bagian dari Organisasi BEM
Setelah MOPD selesai, diadakan pemilihan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Dari banyak peserta, aku nggak nyangka terpilih jadi salah satu kandidat dari empat orang: aku, Mbk Rana, Mbk Alfi, dan Mbk Midah.
Prosesnya seru banget! Kami harus menyampaikan visi-misi, menjawab pertanyaan peserta, dan ikut pemungutan suara. Akhirnya, Mbk Alfi terpilih sebagai ketua, dan aku ditunjuk sebagai sekretaris BEM.
Awalnya aku ragu bisa tanggung jawab, tapi lama-lama aku belajar. Jadi sekretaris BEM bukan hal mudah, tapi dari situ aku tumbuh jadi pribadi yang lebih disiplin dan percaya diri. Walau sempat nangis karena stres (hehe, dasar cengeng 😅), tapi akhirnya aku bisa juga melewatinya.
Aktivitas di MEC Surabaya
1. Program Entrepreneur
Program ini jadi kegiatan favoritku! Di sini kami diajarkan berwirausaha tanpa modal, belajar komunikasi, promosi, dan menghadapi pelanggan. Dari sinilah aku mulai paham nilai kerja keras dan pentingnya berani mencoba hal baru.
Setiap hasil penjualan kami sisihkan untuk tabungan masa depan. Aku belajar bahwa uang yang didapat dari keringat sendiri terasa jauh lebih berharga daripada sekedar menerima.
2. Pengalaman Pribadi Trista Kegiatan Diniyah
Selain dunia bisnis, MEC juga membekali kami dengan ilmu agama. Setiap malam Senin sampai Rabu pukul 19.15–20.15, ada kelas Diniyah Malam. Di situ kami belajar fikih, tafsir, dan akhlak, supaya jadi pengusaha yang bukan hanya sukses dunia, tapi juga akhirat.
3. Pengalaman Pribadi Trista Belajar Mengaji
Mengaji bukan hanya untuk anak kecil. Di MEC, semua peserta didik tetap belajar membaca Al-Qur’an dengan benar. Aku belajar memperbaiki tajwid dan memahami maknanya.
Aku selalu ingat kata ustadz waktu itu:
“Setiap huruf Al-Qur’an yang kamu baca bernilai pahala. Bacaanmu bisa menjadi cahaya di dunia dan penolongmu di akhirat.”
Kalimat itu meneguhkan hatiku untuk terus belajar. Karena ilmu agama adalah bekal yang tak pernah habis.
Kenangan Tak Terlupakan di MEC Surabaya
Banyak banget kenangan di MEC yang masih aku simpan sampai sekarang. Dari tawa tanpa beban, kebersamaan yang hangat, hingga malam-malam renungan yang bikin aku introspeksi diri.
Semua itu mengajarkanku arti bersyukur, berjuang, dan mencintai proses. Kebersamaan di MEC bukan sekedar tentang belajar, tapi tentang bagaimana bertumbuh bersama.
“Kebersamaan itu anugerah yang tak bisa dibeli dengan uang, dan keceriaan mengajarkan arti kekuatan diri.”
Terima Kasih untuk Perjalanan Ini
Pengalaman Pribadi Trista di MEC Surabaya menjadi bagian penting dari perjalanan seumur hidup. Dari anak pondok yang pemalu, saya tumbuh menjadi pribadi yang lebih berani, mandiri, dan punya tujuan hidup yang jelas.
Setiap tawa, tangis, dan perjuangan di sana bukan sekadar kenangan, tapi pelajaran hidup yang akan aku bawa selamanya.
Terima kasih MEC, telah menjadi tempat saya belajar bukan hanya tentang bisnis dan pendidikan, tetapi juga tentang arti kehidupan dan keluarga sejati.
AKU PUNYA BEBERAPA KISAH YG SUDAH AKU BUAT DI MEC (KENANGAN YANG BELUM TENTU BISA DIULANG)
